Pelindo Rehabilitasi 31 Hektar Kawasan Mangrove di Makassar

Menko Marves dalam Kegiatan Penanaman Mangrove Pelindo di Maros Sulsel

PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melaksanakan program Rehabilitasi Kawasan Mangrove seluas 31 Hektar di Maros, Makassar. Program kegiatan ini turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) RI, Luhut B. Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Siti Nurbaya Bakar, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Sakti Wahyu Trenggono, Menteri BUMN yang diwakili oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Teknologi dan Informasi, Tedi Bharata, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, Dewan Komisaris Pelindo, Direksi Pelindo, Perwakilan Duta Besar, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Rektor Universitas Hasanuddin dan Perwakilan World Bank.

“Mangrove ini merupakan salah satu tanaman yang mampu menyerap emisi karbon sampai 12 (dua belas) kali lipat, kalau sudah cukup matang,” ujar Menko Luhut.

Program Penanaman Mangrove ini merupakan bentuk komitmen Pelindo dalam menyukseskan program Pemerintah serta implementasi dari Perjanjian Kerja Sama dengan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk merehabilitasi Kawasan Mangrove di seluruh Indonesia. Tidak hanya melakukan penanaman, Pelindo juga memberikan program pemberdayaan masyarakat (community development) kepada komunitas. Lebih jauh, Program penanaman dan community development mangrove selaras dengan dua dari tiga bidang prioritas TJSL BUMN yaitu Lingkungan dan Pengengembangan UMKM.

“Program Rehabilitasi Kawasan Mangrove memberikan banyak dampak positif, bukan hanya dalam lingkup pelestarian lingkungan dan penanganan perubahan iklim, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi generasi penerus dalam menanamkan pemahaman akan pentingnya upaya pemeliharaan lingkungan dan menjaga keseimbangan alam, sebagaimana menjadi upaya dalam pemenuhan Sustainable Development Goals (SDG),” ujar Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono.

Dirut Pelindo Arif Suhartono dalam Kegiatan Penanaman Mangrove

Terkait dengan program penanaman mangrove, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves Nani Hendiarti dalam sambutannya mengatakan, “Hari ini merupakan momen yang sangat penting untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia terus melaksanakan program rehabilitasi mangrove dengan melibatkan multistakeholder. Saya berterima kasih kepada Pelindo yang telah memfasilitasi kegiatan penanaman mangrove ini,”.

Selama periode tahun 2021, sebagai realisasi dari Perjanjian Kerja Sama dengan tiga kementerian, Pelindo telah melakukan rehabilitasi seluas 126,5 Ha kawasan mangrove yang tersebar di Langsa, Aceh; Indramayu, Jawa Barat; Probolinggo, Jawa Timur; dan Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sedangkan untuk tahun 2022, Pelindo berkomitmen untuk melakukan penanaman mangrove seluas total 145 Ha di Desa Rantau Panjang, Aceh Timur; Teluk Naga, Banten; Teluk Lamo, Banten; Pasuruan, Jawa Timur; Maros, Makassar, dan lainnya.

Dalam laporannya, Direktur SDM dan Umum Pelindo Ihsanuddin Usman, selaku Direktur yang membina TJSL menambahkan bahwa Pelindo juga berupaya dalam penurunan port stay dan cargo stay, hal ini sangatlah penting karena berdampak langsung pada pengurangan emisi energi. Sebagaimana juga dapat membantu pencapaian implementasi Green Port dan selaras dengan isu presidensi G20, yakni perbaikan lingkungan dan penanganan perubahan iklim.

Program Rehabilitasi Kawasan Mangrove oleh Pelindo pada hari ini dilaksanakan serentak di lima titik lokasi dengan total luas 96,5 Ha yakni seluas 13 Ha di Desa Marana, Kab. Maros, 18 Ha di Kuri Caddi, Kab. Maros, 20 Ha di Teluk Naga, Banten, 12,5 Ha di Teluk Lamo, Banten, 18 Ha di Desa Rantau Panjang, Aceh Timur dan 15 Ha di Pasuruan.

“Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi yang baik dari Pemerintah dan segenap pemangku kepentingan. Tidak lupa, peran serta dan dukungan masyarakat dalam komunitas turut mengambil andil besar. Untuk itu kami juga mengupayakan yang terbaik melalui program pengembangan komunitas (community development) sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat salah satunya dengan memfasilitasi pengembangan usaha produk turunan mangrove, maupun penyediaan fasilitas wisata mangrove,” tambah Arif.

Pada pengerjaannya, Pelindo turut melibatkan komunitas masyarakat pesisir yang tergabung dalam Kelompok Penggiat Mangrove sebagai bentuk dukungan perusahaan atas Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

“Restorasi mangrove merupakan persoalan lingkungan yang penting dan dengan harganya yang tidak mahal penanaman mangrove dapat dilaksanakan setiap level. Program rehabilitasi mangrove tidak hanya terkait dengan restorasi mangrove, tapi juga mengedepankan konservasi yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Saya berharap ini tidak hanya pekerjaan pemerintah, melainkan semua komunitas, apakah itu LSM, swasta, maupun masyarakat itu sendiri, untuk melakukan kerja sama dalam membangun mangrove, sehingga membuat udara lebih sehat lagi. Karena mangrove ini untuk generasi kita yang akan datang,” pungkas Menko Luhut.